Category Archives: Opini

Mengambil Hikmah dari Kisah Perjalanan Hi-Octan & Octamax-96

Ide tulisan ini awalya berawal dari ocehan Andrias Laszudildas di dinding facebook HIW. Saat artikel ini ditulis, Andrias telah menjadi The Mantans dan bergabung dengan Haters. Saat ini dia adalah salah satu orang yang sering membuat status kontroversi di Facebook. Meskipun dia selalu mengatasnamakan agama sebagai pembenaran alasan dirinya keluar dari LSBD HI, dia tidak mampu menyembunyikan kekecewaan pribadinya atas apa yang dialaminya saat menjadi pengelola salah satu produk peningkat Oktan di komunitas Hikmatul Iman.

Simaklah screenshoot percakapan berikut yang admin ambil dari Facebook :

Ternyata ada dendam pribadi andrias pada hi octan 1

divider

Dalam diskusi di atas, Andrias menyatakan bahwa pencetus Hi-Octan adalah dari Octamax. Andrias juga menyatakan bahwa Hi-Octan merebut pasar HI.

Benarkah faktanya demikian? Untuk masalah produk Hi-Octan, ada baiknya kita bertabayyun langsung dengan pihak-pihak yang terlibat dengan produknya langsung. Atas dasar itulah, admin memutuskan untuk mengupas tuntas masalah Hi-Octan & Octamax.

Admin melakukan banyak percakapan  langsung dengan Kang Hedy Ardenia Octaviano, Direktur Utama CV Energi Selaras Alam, Di samping itu, kami bertanya-tanya pada para distributor dan reseller produk tersebut serta mendengarkan curhat-curhat mereka. Kami juga mengobrol dengan para pemakainya. Dari situ, kami mendapatkan beberapa informasi yang akhirnya bisa kami susun dalam uraian di bawah ini.

Tentang Octamax-96

Produk peningkat oktan yang pertama kali diproduksi di lingkungan internal LSBD HI adalah OCTAMAX 96, tahun 2008 akhir. Produk ini dikelola oleh Ranting UIN dengan beberapa orang pengelola, salah satunya adalah Andrias Laszudildas, di bawah bendera CV. Hikmatul Iman. Saat itu distribusi produk tersebut hanya beredar di kalangan internal komunitas Hikmatul Iman saja. Admin pun saat itu pernah membeli produk tersebut di akhir acara Open Dialog Hikmatul Iman. Inilah penampakan Octamax 96 generasi pertama yang sempat Admin beli tersebut :

Octamax 96 Level 1 kompetitor awal Hi Octan
Octamax 96 Level 1, cara pakai 1 tutup botol (5 ml) untuk 2 liter Bensin Premium

Admin termasuk salah seorang yang membeli produk ini di acara Open Dialog Hikmatul Iman saat itu.  Admin masih inget kok aturan pake produk ini, 1 tutup botolnya, 5 ml, untuk 2 liter bensin Premium.  Secara kualitas memang tidak mengecewakan kok.

Admin mencatat Kelemahan produksi pertama Octamax ternyata tutupnya yang gampang bocor, terutama saat kepanasan di bagasi motor atau di dashboard mobil. Admin ngalamin sendiri kok, saat ditaruh di bagasi motor, tutupnya longgar hingga isinya tumpah semua.

Berikutnya, produsen Octamax-96 mengganti tutupnya dengan tutup logam seperti yang dipakai botol produk Ragani. Selama tutupnya belum dibuka, produk ini lebih gampang dikirim, tapi begitu sekali dibuka, jadi gampang bocor lagi. Jadi, admin yakin, Andrias dan kawan-kawan pun tentu merasakan rumitnya riset, pengelolaan, hingga distribusi produk yang terbuat dari bahan-bahan baku yang menurut Andrias sangat sederhana itu. Pesan pertama yang admin sampaikan adalah, sesederhana apapun suatu produk, butuh pengelolaan yang serius.

Kemunculan Awal Hi-Octan

Kalau berdasarkan hasil ngobrol dengan para anggota komunitas sih, ternyata banyak yang nggak ngerti juga apa bedanya Hi-Octan & Octamax, Kenapa sampai terjadi lebih dari 1 produk dengan pengelola yang berbeda? Bahkan banyak juga yang nggak tahu kalau Hi-Octan dan Octamax itu produknya berbeda.

Di awal tahun 2010, Kang Hedy, Kang Ridwan, Kang Encep, dkk, awalnya sedang meriset bakteri fermentasi yang paling efektif untuk mengolah singkong menjadi tepung terigu. Mereka berdiskusi dengan Kang Dicky Zainal Arifin, dan meminta saran untuk pengembangan bakteri fermentasi tersebut, agar lebih efektif dari metoda yang sudah ada saat itu, yang sebetulnya sudah banyak diproduksi berdasarkan riset dari staf ahli Institut Pertanian Bogor. Saat itu, Kang Dicky sudah dikenal sebagai pengembang bakteri mikroba organik pupuk DZA, jadi wajar sekali khan kalau Kang Hedy cs berdiskusi tentang masalah bakteri tersebut dengan kang Dicky?

Karena saat itu Kang Dicky sangat sibut dengan riset aplikasi UP2U terbaru dll, Kang Dicky agak menolak menindaklanjuti riset bakteri tepung mocaf, lalu menawarkan riset yang lain.

“Riset naon kang?”, tanya Kang Hedy.

“Bebas,” jawab kang Dicky, “Saat ini banyak produk yang timing-nya pas untuk dikembangkan, misal peningkat oktan, pakan ungas organik, atau… ” (Kang Hedy lupa produk apa yang disebutkan KD saat itu).

“Tapi lantaran waktos eta kang Dicky sibuk, janten ku kang Dicky disuruh riset sendiri. Janten kang Dicky teu masihan bahan nanaon,” lanjut Kang Hedy.

Atas dasar itulah pada waktu itu Kang Hedy dan kawan-kawan, memilih peningkat oktan, dengan beberapa pertimbangan :

  • Lebih gampang diriset, Kang Hedy melihat banyak sekali kekurangan yang belum disentuh oleh tim riset Octamax yang mungkin belum kepikiran oleh mereka.
  • Bahan-bahan baku pembuatnya gampang didapat
  • Area pemasaran masih amat sangat luas, terutama di luar komunitas internal LSBD Hikmatul Iman, komunitas otomotif dan orang awam pemilik mobil dan motor. Apalagi saat itu Kang Ridwan dan Kang Jamiat mempunyai beberapa relasi yang bergerak di perusahaan Network Marketing.

Maka kang Dicky dikabari dan kang Dicky memberi lampu hijau. Ada satu ganjalan di pikiran para pengelola Hi-Octan : bagaimana dengan OCTAMAX yang udah jalan duluan? Bagaimana kalau sampai bentrok?

“Atur-atur wae lah pasar mah. Da pasar mah luas pisan.” Ucap Kang Dicky saat itu.

Agar tidak terjadi kendala non-teknis, akhirna Kang Hedy memutuskan untuk mengontak dan menemui pengelola Octamax terlebih dahulu. Pertama, untuk minta izin, sebagai orang Sunda supados sopan. Kadua mengabari bahwa meskipun produknya sejenis, Kang Hedy cs areal pemasarannya murni luar di luar komunitas HI. Pasar HI yang sudah dimulai oleh OCTAMAX, tidak akan diganggu gugat.

Awalnya sih tidak terlihat lancar dan tidak ada masalah. Tapi saat ditindaklanjuti lebih jauh, ternyata ada penerimaan pihak Octamax yang terlihat sinis. Mereka mempertanyakan, kenapa kang Dicky malah membuat tim baru untuk produk peningkat oktan ini? Sepertinya pihak Octamax merasa hak monopoli pasar mereka terancam. Mereka bertanya langsung pada Kang Dicky saat Crew Hi-Octan & Octamax dipanggil dan dikumpulkan di tempat praktek Kang Dicky di Piring Kenteng.

“Kang, apakah nantinya Akang akan membentuk tim ketiga lagi?”,  tanya pihak Octamax.

“Kalau Akang melihat kedua tim ini tidak maju, tentu saja Akang akan membuat tim ketiga,” pungkas Kang Dicky

Rupanya Kang Dicky menginginkan adanya kompetisi secara sehat agar bisa maju dan membuka pasar yang sangat luas tersebut, pasar global memang belum tergarap. Saat itu, bahkan sampai sekarang pun, sebetulnya banyak merek-merek produk Octan Booster & Fuel additive lokal dan impor yang beredar di masyarakat.

Pada akhirnya hasil dari pertemuan itu mereka menyetujui kesepakatan itu setelah Kang Hedy bertanya “Apa Octamax takut nggak bisa cari pasar diluar kalau kita juga maju? “

Mereka penuh keyakinan pihak Octamax berkata, “Pasar kita juga bukan cuma internal HI, Kang. Saat ini kita sudah memasarkan Octamax sampai ke Riau dengan pesanan 2. 000 botol,  bahkan sudah tembus Batam, jadi Octamax yakin pemasaran ke luar pasti sukses”.

Kang Hedy tanya lagi,  “kalau begitu gak akan takut kalau ada produk saingan diluar?”

“Iya.” jawab Octamax.

Jadilah kesepakatan itu disepakati bersama.

Kemudian kita mulai meriset produk sampai jadi dalam bentuk kemasan dan menamai HI-OCTAN. Itu diambil dr bahasa Inggris, High-Octane, yang artinya oktan tinggi. Jadi, HI-OCTAN itu bukan singkatan dari Hikmatul Iman Octan, dan saat ini pun, namanya tidak perlu latah bertransformasi menjadi Lanterha-Octan, bahkan admin kira Hi-Octan itu adalah singkatan dari Hedi Octaviano…  🙂

Pemasaran Hi-Octan diluar di luar dilakukan tanpa mengatas namakan Hikmatul Iman.  Berbagai event promosi dilakukan di luar komunitas HI. Marketer HI-OCTAN selalu membrandingnya sebagai produk hasil riset para alumni ITB.  Ya nggak salah, Kang Hedy cs memang alumni ITB kok. Sebagai payung hukumnya, Kang Hedy membuat perusahaan sendiri yang bernama CV Energi Selaras Alam.

Perusahaan di buat juga diluar kang Dicky sama sekali. Riset pun dijalankan secara mandiri, meski awalnya pihak Hi-Octan selalu konfirmasi ke KD. Lama kelamaan, setelah melalui riset cukup mendalam dan disertai hasil-hasil Uji Lab Mandiri, pihak Hi-Octan semakin jarang konfirmasi langsung ke KD. Produk-produk baru hasil riset mandiri berkembang dan memunculkan beberapa produk turunan dari Hi-Octan :

  • Hi-Octan Level 3
  • Hi Cester
  • Hi-Octan Racing,
  • Hi-Octan Avatara (produk ini tidak jadi dilaunching karena dinilai kurang ekonomis)
  • Neo Hi-Octan,
  • Hi-Cester Bio Mix
  • Hi-Octan tablet (produk ini dipesan ekslusif salah satu perusahaan MLM lokal terbesar di Indonesia).
  • Bio Hi-Octan (HI-Octan Generasi ke-5)
  • Bio Hi-Cester (HI-Cester versi 3.10)

Produk-produk tersebut di atas adalah murni hasil riset mandiri. Itu berjalan selama 4 tahun, dan riset untuk terus menyempurnakan produk itu tidak pernah berhenti, sampai sekarang pun masih terus berlanjut. Apakah Kang Dicky menutup mata pada perkembangan ini? Tidak! Unit produksi Hi-Octan sendiri pernah disidak langsung oleh Kang Dicky dan Teh Risty ke pabriknya langsung 🙂

Itulah perkembangan Hi-Octan. Bagaimana dengan Octamax-96?Kita lihat positifnya saja ya, pada dasarnya mereka juga berusaha. Itu terlihat kok pada akhir tahun ke-2 saat Tim Hi-Octan mengembangkan riset dan membuat produk baru yang bernama Hi-Octan Generasi ke-3.

Pihak Octamax pun meniru cara kerja Hi-Octan dan memberikan riset mereka ke KD,  saat KD bilang hasil riset ini belum ada peningkatan, masih di level 2. Keliatan banget mereka bété sekali.

Kejadian itu terulang pas Hi-Octan mengeluarkan produk HI CESTER (additive untuk mengoptimalkan mesin diesel berbahan bakar solar).  OCTAMAX kembali komplain dan mempertanyakan ke KD, kenapa HI OCTAN dikasih tapi OCTAMAX nggak? KD bilang dengan santai, “Akang mah nggak pernah kasih formula solar ke HI OCTAN, mereka itu riset sendiri”.

Amat sangat disayangkan jika seolah ada prasangka negatif dari mereka pada pihak HI-OCTAN. Mereka juga seolah menyangka bahwa KD pilih kasih ke HI OCTAN. Padahal faktanya tidak seperti itu.

Menurut pengamatan admin, kegagalan mereka terjadi karena 2 faktor :  masalah strategi pemasaran dan kurang baiknya Quality Control.

Masalah pemasaran, banyak agen dan reseller yang ternyata kecewa pada pihak Octamax, itu terjadi pertama kali di acara Open Dialog Hikmatul Iman. Saat itu produsen Octamax memberi harga diskon khusus yang dinilai keterlaluan. Harga jualnya sama dengan harga reseller!  Lha terus resellernya mau dikasih untung berapa? Itu khan sama aja dengan membuka keran reseller, setelah reseller ada dan membantu penjualan, terus resellernya nggak boleh jualan. Masalah kedua, produsen Octamax mencantumkan nomor HP layanan konsumen. Tujuannya bagus, tapi dalam pelaksanaannya seakan disalahgunakan. Setiap orang yang menghubungi nomor tersebut diprospek jadi konsumen, setelah tertarik, bukannya direferensikan pada reseller terdekat, malah di-bypass. Wajar nggak kalau resellernya jadi pada bete?

Itulah awal kisah anak HI mengajukan permohonan jadi reseller Hi-Octan.  Jadi ngga usah heran kalo saat itu produk Hi-Octan mulai banyak dipesan anggota komunitas internal HI yang seharusnya semuanya dilayani pihak Octamax.

Masalah Quality Control, ada satu desas-desus sempat terjadi kegagalan produk yang gosipnya mengakibatkan lebih dari 20 mobil bermasalah. Dan ketika pemilik mobil mempertanyakan dan meminta pertanggungjawaban,  pihak Octamax malah menghilang tanpa kabar dan produksi mereka berhenti. Saat itu terjadilah kekosongan produk Octamax dalam waktu lumayan lama. Para konsumen Octamax di Jakarta yang sebagian besar diantaranya pasien-pasien Kang Dicky semakin banyak yang komplain. Tidak semua komplainnya negatif. Banyak yang sebetulnya mempertanyakan kenapa produk Octamax-96 nggak tersedia lagi di Jakarta, mereka sebetulnya sudah cocok dengan produk tersebut. Itulah saat dimana KD mengambil keputusan dengan nada suara agak keras agar semua pemasaran produk peningkat oktan diisi oleh HI OCTAN,  di HI maupun diluar.

Waktu itu Tim Hi-Octan sempat merasa dilema karena itu diluar kesepakatan awal. Tapi KD mengulang dengan tegas sampai 3 kali dan bilang : “Pami barudak Ranting UIN komplain, wartoskeun we ieu mah saur Akang!”.

Sejak saat itu, baik HI-OCTAN maupun OCTAMAX berkompetisi secara bebas baik di dalam maupun di luar lingkungan komunitas HI., produk Hi-Octan mulai dijual di acara-acara resmi Hikmatul Iman, pada acara Latgab, Open Dialog, Ramadhan Fair, dll.

divider

Jadi, apa saja perbedaan HI-OCTAN dan OCTAMAX?

Kalau Admin amati, memang cukup banyak perbedaan antara Hi-Octan dan Octamax.

Pertama, Hi-Octan melakukan banyak riset dan uji coba. Mereka dengarkan saran-saran dan masukan dari konsumennya. Mereka uji coba ke Lemigas, Petrolab, dan melakukan Uji Dyno Test. apakah Octamax-96 melakukan itu? Belum!

Kedua, harga Hi-Octan lebih dari Octamax! Hah? Apa iya? Dalam setiap event bersama, pihak Octamax selalu mengklaim harga mereka lebih murah. Iya, saat itu harga Hi-Octan Level 3 35rb/botol, Octamax cua 20rb/botol. Kok bisa dibilang lebih murah? Admin sudah mencoba sendiri produk Hi-Octan maupun Octamax-96. Ternyata dosis cara pemakaiannya berbeda. Teliti saja dari cara pakainya. 1botol Hi Octan 80 ml hingga generasi ke-4, bisa digunakan untuk 80 hingga 160 liter bensin, sedangkan 1 botol OCTAMAX-96 80 ml hanya cukup untuk 22,5 hingga 30  liter bensin. Jelas khan?

Ketiga, ketepatan dosis. Hi-Octan bahkan menyusun “tabel dosis” secara akurat dari berbagai kendaraan berdasarkan rasio kompresi. Apakah Octamax melakukan itu? Tidak! Octamax memukul rata dosisnya dengan aturan : 1 tutup botol untuk 2 liter. 1 botol penuh untuk isi full tank mobil. Tidak dijelaskan berapa kenaikan nilai oktan yang dihasilkan, hanya dituliskan maksimal hingga setara Pertamax Plus.

Keempat, keseriusan riset dan pengembangan. Saat ini Hi-Octan sudah sampai Level 5 (Generasi 5), sedangkan OCTAMAX-96 mentok di Level 2, meskipun mereka mengklaim sudah mengeluarkan Level 3. Gak ada bedanya Level 2 dan Level 3 nya OCTAMAX-96 mah, itu cuma beda warna pelarut doank 🙂

Kelima, pihak HI-OCTAN lebih serius dalam kegiatan dan strategi marketingnya. Mereka kelola website-websitenya dengan serius. Mereka ikuti berbagai event, pameran, sampai kegiatan otomotif. Apakah pihak Octamax melakukan itu? Admin cari-cari di Google nggak nemu tuch!

Hi-Octan melakukan penjajakan kerjasama dengan beberapa perusahaan Network Marketing. Itu sebabnya lahir banyak merek turunan Hi-Octan : Ges Power Booster, Fors Booster, Eco Racing. Apakah Octamax melakukan ini? Belum tuch!

Apa Pelajaran yang bisa kita ambil bersama?

Pertama, kalau Akang-Teteh punya ide untuk membuat produk, jalankan saja. Nggak usah sungkan dengan para senior.  Nggak usah takut dituduh mencuri ide, nggak usah takut dibilang nggak koordinasi, nggak usah takut dibilang nggak mau satu pintu komando. Bisnis itu bukan masalah senioritas, tapi masalah niat,  kapasitas, kreativitas, dan kemauan kerja keras dan kerja cerdas.

Kedua, kalau akang-teteh mau mengembangkan produk dari ide Kang Dicky, risetnya jangan terlalu tergantung KD atuh. Berusahalah semandiri mungkin. Optimalkan ilmu akademik akang-teteh, gabungkan dengan berbagai riset dari internet.

By the way, akang-teteh tahu produk Levisav pasta gigi non flouride berbahan dasar daun sirih yang dikeluarkan Yayasan Ummara khan? Pada awalnya, Yayasan Ummara tidak meminta KD untuk menyuapi mereka. Produk tersebut lahir dari riset mereka secara mandiri. Saat risetnya sudah matang, barulah mereka baru diskusi dan meminta padangan pada KD.

Ketiga, banyak produk komunitas yang belum diolah dengan serius. Jangan sungkan-sungkan untuk merisetnya.

Keempat, mari kita sama-sama belajar dari sejarah. Sebagai contoh, pakan ikan misalnya. Kalau mau mengelola pakan ikan, telusuri sejarahnya. Kenapa dulu Kang Yudi X-Wasdal itu gagal di bisnis pakan ikan? Salah produknya? Salah pasarnya? Atau terlalu tergantung dari info mentah dari KD tanpa mau mengolahnya lebih jauh? Lakukan riset dengan matang dengan bantuan Google dan konsultasi pada teman-teman kita yang menguasai ilmunya. Masa sih di internal komunitas kita nggak ada ahli dan praktisi peternakan dan pertanian?

Kelima, jangan cuma berpikir market internal komunitas yang terbatas, buka pasar seluas mungkin. Pasar di luar jauh lebih banyak dibandingkan dengan hanya ulukutek di internal saja. Mengelola produk dengan serius adalah sarana untuk terus membangun dan memperbesar kekuatan komunitas.