Category Archives: Curhat – Dari Kita Untuk Semua

Selamat Hari Raya Idul FItri 1 Syawal 1437 H

Para Pembaca Blog Lanterha Watch yang dimuliakan Allah, tidak terasa Ramadhan sebentar lagi akan meninggalkan kita. Semoga nilai – nilai yang kita dapatkan sepanjang bulan penuh berkah ini dapat terus kita terapkan sepanjang tahun.

Tentunya sepanjang kebersamaan kita, kami dari tim redaksi laterhawatch.com tak bisa lepas dari banyak kesalahan. Dari salah ketik, data yang kurang akurat, hingga pernyataan pendapat kami yang mungkin tidak berkenan di hati. Oleh sebab itu kami memohon kerelaan sidang pembaca untuk mohon dibukakan pintu maaf.

Decorative-Line-Gold-PNG-Image

Selamat hari raya Idul Fitri 1437 H
Semoga Yang Maha Kuasa menerima shaum kita.

Selamat mudik dan menikmati kebersamaan dengan keluarga
Selalu berhati – hati sepanjang perjalanan

Mohon maaf lahir dan batin.

Decorative-Line-Gold-PNG-Image-bagian atas

Kang Ashari : Hikmatul Iman Sesat? DZIG!

Pengantar


Kang Ash… Curhat yuk !!

Setelah sekian lama ngga nulis di blog ini, minggu ini kangen timbul keinginan besar untuk curhat. Ngga lain ngga bukan karena akhirnya setelah puluhan tahun, Hikmatul Iman masuk pemberitaan TV nggak hanya lokal tapi nasional! dahsyat.. sesuatu yang belum bisa saya capai selama 7 tahun jadi Pengurus Pusat Hikmatul Iman. Alhamdulillah banget yah, sekarang pasien, keluarga, teman, dan sahabat bertanya tentang HI.

Kang, Ri, Ash, Hikmatul Iman sesat ya?

Ah dzig ! tapi biasa aja sih soalnya dulu juga disangka pakai jin dan musyrik. Jadi kalau sekarang dibilang sesat.. levelnya dibawah musyrik kan ya (alhamdulillah)
Bagi teman teman yang belum mengenal HI, saya kasih sedikit gambaran apa sih Hikmatul Iman dari perspektif pribadi saya. Cerita berawal dari kelas 1 SMA, pengalaman di Hikmatul Iman memberikan dampak besar bagi kepribadian seorang Mohamad Ashari. Dulu ashari adalah orang yang sangat “kuper” (baca: kurang pergaulan), jangankan berdiri di depan orang banyak, mau bertatap pandangan kecengan aja lutut gemetar (#eh yuk ganti topik).
Rangkaian proses di Hikmatul Iman ranting SMA 3 sedikit demi sedikit memperkaya kepribadian saya, mulai dengan kepercayaan yang diberikan oleh senior untuk turun demo, memegang seksi kepelatihan ranting, ketua ujian cabang Bandung yang merupakan UKT bersejarah dengan makanan prasmanan dan coffee break bagi para penguji. Intinya saya yang hari ini dibentuk dari jutaan interaksi teman, sahabat, pelatih, guru, keluarga, dll, dsb.
Bagi saya Hikmatul Iman sudah merupakan bagian dari karakter. Panggilan akang dan teteh sudah jadi bagian dari keseharian walaupun sebenarnya berasal dari paduan darah padang dan solo. Bisa dilihat dari rupa cakep ala melayu dan lembut seperti solo-er sejati. Ok cukup tentang saya.. Kembali ke Hikmatul Iman yang katanya sesat.Kita harus ingat bahwa yang mengatakan sesat adalah kelompok kontra Hikmatul Iman, kelompok yang tidak suka terhadap Hikmatul Iman. Jadi yang bilang sesat bukan MUI ya, atau setidaknya MUI masih berproses mengkaji ini.

Kang Ash, kenapa nge-bela-in H?, kan HI udah bubar..

Akang dan teteh, iya saya belain HI tapi yang saya bela sebenarnya bukan nama Hikmatul Imannya, nama bisa ganti dan “metamorfosa” cingcay lah. Yang saya bela juga bukan ego saya bahwa saya anggota HI dan ngga rela HI di cap sesat. Yang saya bela sebenarnya adalah saudara – saudara seperguruan. Nama Hikmatul Iman dibangun oleh ribuan orang, keringat kolektif dari ratusan aspel, puluhan pelatih, dan menyentuh jutaan masyarakat.

Jika Hikmatul Iman di cap sesat oleh masyarakat (padahal belum tentu sesat) bagaimana nasib saudara kita yang tiba – tiba diragukan oleh masyarakat dan keluarganya? Anggota di ranting yang langsung di cap pengikut aliran sesat. Blow up media yang dahsyat saat ini sudah mengakibatkan banyak anggota yang harus menghadapi situasi tidak nyaman.


Analoginya kita lagi jalan, diteriaki maling, dikelilingi massa, ditunjuk-tunjuk oleh massa, lalu harus membuktikan bahwa kita bukan maling. Ngga semua anggota siap untuk ini, tapi pemberitaan dari pihak kontra memaksa hi-ers kepada situasi ini. Yang saya ngga habis pikir,.. pihak kontra kan pernah bersama – sama di hikmatul iman, punya ikatan persaudaraan yang mungkin sama dengan yang saya rasakan terhadap hi-ers lain. Lho kok ya tega menempatkan anggota yang masih muda dan unyu-unyu, ngga tau apa- apa tentang politik elit di situasi yang sangat tidak nyaman. Saudara macam apa kalian ?!


Kalau tentang perbedaan pendapat, kan bisa diselesaikan tanpa harus hiruk pikuk bikin heboh dan lebay. Pihak kontra ingin kejelasan sesat atau tidak sesat dari MUI, kan sudah dilayani. Hikmatul Iman juga proaktif berkoordinasi dengan MUI. Tinggal nunggu waktu aja, sabar dikit napa ! Minggu ini pihak kontra, minggu depan pihak HI, lalu di kaji, lalu keluar surat hasil kajian, beres… semua senang.


Kalaupun HI nanti setelah dikaji sesat, tinggal diluruskan kan kita saudara, bukankah tujuannya meluruskan akidah yang menyimpang bukan bunuh membunuh.. apa susahnya sih nunggu dan sabar.


Atau emang niatnya bunuh membunuh? Mana hasil latihan tahunan yang kalian lakukan? Menurunkan egonya sebelah mana? Memaklumi orang lainnya disimpan dimana? Ngga ada gitu etika yang tersisa?


Sementara saya ingat sekali akang -akang senior ini mengajarkan segala nilai kebaikan yang membuat saya merasa menjadi pribadi yang lebih baik dengan berlatih di Hikmatul Iman. Apa yang kemarin diajarkan bullshit semua?


Atau jangan-jangan udah ada feeling bakal terbukti bahwa kalian salah? Jadi bom dan bakar aja dulu, pendapat MUI mah belakangan yang penting hancur dulu. Lho katanya kalian pejuang akidah, katanya menghormati MUI.


>> kalian lapor minta HI di kaji >> MUI proses mengkaji >> tapi proses baru aja bergulir kalian berkotek kotek bahwa hi sesat >> Ngapain lapor bro ???  Logikanya gimana sih ?


Analogi lagi ya, ini mah analogi jeprut :

Misalkan ada perempuan yang ditaksir misal kita sebut bunga >> kenalan >> nah pas bunga lagi mikir kasih nomer telepon ngga ya ?? >> tiba tiba si laki – laki mengumumkan melalui media massa dan sosial media bahwa ia dan bunga sudah membina keluarga bahagia selama 9 tahun, memiliki dua orang anak lucu, dan sepasang anjing siberian husky.
Kan aneh… kenalan aja belum selesai, udah mikir kejauhan. Pantesan cari calon istri dokter belum dapet – dapet!
Buat akang dan teteh, hi-ers, teman dan sahabat. Kalau pendapat mau diadu dengan pendapat, maka pendapat saya adalah :

Ngga ada yang aneh di Hikmatul Iman!

  1. Syahadat sama ngga ada perubahan redaksi sama sekali
  2. Sholat wajib sama 5 kali sehari
  3. Puasa masih dari shubuh sampai magrib
  4. dst, dll, dsb
Di hikmatul iman menurut saya demokratis sekali, ngga ada pemaksaan paham atau ide. Jadi sangat lucu kalau disebut paham menyimpang. Lha wong perintah dari guru utama langsung yang udah jelas banget “Kalian harus latihan dirumah!” aja ngga dijalankan oleh semua anggota! Mau jadi aliran sesat dari hongkong!! Bayar iuran aja jarang mimpi mau jadi sekte.
Kalau the mantan dengan bangga mengakui mereka mantan wasdal (kesannya keren, mengetahui seluk beluk HI)….

Saya mau bilang Heloooow kemana aja kang ? wasdal jaman kapan? jaman training center dan kelas lodaya tahun 2003? Kemana aja selama ini baru muncul lagi? kemana aja saat ini saat pengurus – pengurus hikmatul iman membutuhkan sosok panutan yang penuh kebijaksanaan?


Dan kalau the mantan ngaku sebagai pengurus pusat dari 2012 – 2016.. mana tanggung jawabnya? Hanya nama tanpa kerja dan membiarkan begitu saja anak buah tanpa bimbingan selama 4 tahun, itu bukan prestasi lo! Untung HI sudah bermetamorfosa, kalau masih ada.. tanggung jawabnya mana nih. Akang yang datang minta tolong untuk revitalisasi organisasi, dibantuin sepenuh hati, eh.. tanpa sepatah katapun tiba – tiba cabut. 29 juta uang anak – anak ngga jelas nih ! Mana integritas sebagai seorang sosok pemimpin?


Akang murid pertama yang alim… kalau akang kecewa HI ngga bisa memberikan kesejahteraan… Kan kalian yang sejak awal menentukan organisasi ini hendak dibawa kemana dan kalian juga yang mengawasi pergerakannya. HI maju atau ngga maju ya kalian juga punya peran sangat besar!


Saya jadi pengurus pusat pertama kali di tahun 2000 mulai dari NOL, data anggota aja berserakan ngga jelas dan ngga ada arahan sedikit pun organisasi mau kemana. Ngapain aja kalian ? Lalu setelah sekian lama berharap HI memberikan kesejahteraan ? Ngga bertanam kok mau panen ?

Apa akang – akang tidak merasa punya tanggung jawab moral pada para aspel yang sampai saat ini masih menjadi relawan? Mana empati akang – akang terhadap staff pengurus pusat hi yang pada tahun 2012 yang akang – akang terhormat rekrut dengan janji dalam waktu dekat HI akan berubah menjadi lebih profesional? Mereka masih berjuang sampai saat ini membereskan kotoran yang kalian tebar via media massa. Mikir ngga sih ???

Tapi ah sudahlah da itu mah curhat..Sedikit lebih serius ya. Ini pendapat saya tentang kasus sekarang. Diawal, saya mau sampaikan sekali lagi kepada akang teteh HIers, keluarga HIers, dan pasien HI. Dari sudut pandang saya, hikmatul iman ngga ada indikasi kesesatan apapun, jadi bersabar sedikit ya teman – teman, badai pasti berlalu.

———-0O0———-

OK VERSI SERIUS

  1. Pemberitaan mengenai Hikmatul Iman yang diduga menyimpang secara akidah memberikan dampak besar dan menimbulkan keresahan di anggota, pasien, dan masyarakat.
  2. Hikmatul Iman bersikap proaktif, menghormati proses yang tengah berjalan di MUI Jabar, dan berusaha menciptakan suasana kondusif sepanjang proses. Kami ingin menyelesaikan kasus ini dengan terang benderang.
  3. Kasus ini merupakan kasus lama yang kembali diangkat. Diawal pendirian Hikmatul Iman disebutkan syirik karena menggunakan jin (dan tidak terbukti), dibenturkan dengan bela diri lain (dan tidak terprovokasi), pada saat ini dikaitkan dengan penyimpangan akidah. Semuanya bersumber dari provokasi di situs hikmatulimanwatch.org . Silakan bandingkan dengan situs resmi hikmatul iman di hikmatuliman.or.id dan lantera.id maka akan terlihat jelas usaha provokasi dari pihak kontra.
  4. Kasus ini merupakan kasus yang berawal dari kesalah pahaman, pihak pelapor mengambil sebagian materi dari diskusi dalam forum tertutup kemudian mengesankan materi yang tidak utuh tersebut sebagai paham/ajaran. Perlu ditegaskan bahwa :
    1. Tidak pernah ada perintah / himbauan yang wajib ditaati untuk mengikuti ide tertentu di Hikmatul Iman, semuanya dalam tataran diskusi dan kembali pada masing – masing pribadi
    2. Yang diajarkan di Hikmatul Iman adalah beladiri dan aplikasi olah nafas yaitu terapi pengobatan yang kita berikan secara gratis di 15 titik di kota bandung dengan jumlah pasien tidak kurang dari 250 orang per hari.
  5. Ritual sholat tanpa bacaan (RSTB)
    1. Nama RSTB bukan berasal dari Hikmatul Iman / DZA namun merupakan nama yang diberikan oleh anggota grup whatsapp tertutup dimana DZA bukan anggota grup tersebut. Dan bukan paham yang diwajibkan, sekali lagi semuanya dalam tataran diskusi.
    2. Yang sebenarnya didiskusikan adalah bagaimana memaknai gerakan sholat, membawa nilai spiritual kedalam ritual.Sebagai contoh saat takbiratul ihram tidak sekedar menyebutkan Allah Maha Besar tapi kita perlu mendalami makna Allahu Akbar tersebut, sehingga saat takbir seharusnya tidak ada lagi kesombongan yang tersisa. Sehingga sholat bermakna dan berpengaruh dalam kehidupan sehari – hari.Contoh lainnya saat berwudhu, membasuh tangan tidak sekedar membasuh tapi kita berikrar bahwa tangan ini hanya akan digunakan untuk kebaikan. Idenya sederhana, kita perlu mengerti setiap kalimat yang diucapkan saat wudhu, sholat, dan ritual lain.
    3. Dan yang paling penting : RSTB tidak menggantikan sholat. kata yang benar bukanlah RSTB tetapi Belajar Sholat Dari Nol (BSDN).
Istilah RSTB inilah yang memicu kesalah pahaman yang mengesankan DZA mengajarkan sholat dengan semedi / diam / tanpa bacaan. PADAHAL TIDAK, kesalah pahaman inilah yang diangkat oleh pihak kontra.Di Hikmatul Iman kami yang muslim (ada juga anggota non muslim) kami bersyahadat yang sama, tetap mengakui alquran, tetap sholat seperti layaknya muslim lain, tetap menjalankan shaum, silakan konfirmasikan langsung pada anggota.
  1. Untuk penjelasan hal lain yang disangkakan, Hikmatul Iman akan membuka setelah proses pemaparan di MUI hal ini semata – mata karena pertimbangan etika.
———-0O0———-
Semoga curhat ini membantu akang dan teteh, teman dan saudara seperguruan untuk menjelaskan pada pihak yang menerima informasi secara sepihak. Kunjungi web web yang berkaitan dengan sejarah Hikmatul Iman :

Saran Teh Ambar Pada Anggota, Pasien, dan Simpatisan Hikmatul Iman Yang Terganggu Pemberitaan Negatif Media Online

Berikut adalah pengalaman yang sangat berharga dari Fallenty Setia Ambarwati (Teh Ambar), seorang terapis MTHI (Manajemen Terapi Hikmatul Iman) yang ikut Tour de Pasien ke Makassar.

Akang dan Teteh yang saya kagumi, sedikit saya share oleh-oleh dari Sulawesi ya. Kemarin saya mewakili Vallgara untuk Tour de Pasien di 3 tempat, Kota Makassar, Kabupaten Soppeng, dan lupa pinggiran kota Makassar. Intinya, dengan jujur, apa yang kita pelajari di Lembaga Seni Bela Diri Hikmatul Iman, adalah ilmu yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Entah saya, padahal latihan nggak sehebat Akang dan Teteh. Tapi masyarakat di sana hampir seribu orang dalam 3 hari itu amat sangat membutuhkan pengobatan kita. Mereka merasakan manfaatnya.

Jadi kemarin dari MTHI sebenarnya kedua kalinya ke sana. Walau yang pertama hanya Kang Sodik. Dari cerita mulut ke mulut kami datang ke sana sama sekali nggak ada waktu rehat. Apa yang membuat saya tersentuh? rata-rata mereka bilang “Kalau MTHI ke Bandung lagi, kami bagaimana berobatnya? Bagaimana biar kami sehat? Bagaimana biar bisa ikut latihannya?”

Jadi jangan khawatir, Allah SWT sudah menugaskan kita untuk memanfaatkan ilmu HI untuk umat. Saran saya, jika Akang dan Teteh ragu akan guru kita Kang Dicky Zainal Arifin (KDZA), sebelum ada pikiran itu coba ke pelosok-pelosok dan cari pasien. Di sana akan tahu bagaimana berharganya latihan kita walau hanya sebatas angin 1 atau bentuk latihan sederhana lain yang menjemukan itu. Di luar sana, apalagi orang di luar Jawa, masih banyak yang membutuhkan kita.

Berikut screenshoot dari tulisan asli Teh Ambar di Group WhatsApp

Testimoni-Terapis-Teh-Ambar-TDP-Makassar